Sabtu, 11 Mei 2013

KEKRISTENAN AWAL DI SUMATRA



KERISTENAN AWAL DI SUMATRA

Warta kekristenan telah mulai masuk wilayah Sumatra Utara sekitar tahun 645. Informasi tertua mengenai masuknya kekristenan di Barus terdapat dalam catatan sejarawan Arab , Sheikh Abu Salih al-Armini yang hidup sekitar 1150 M. Tentang Sumatra, dia menyebut sebuah komunitas Kristen Nestorian di Fansur (Pancur), Barus. Di kota tua ini ada sebuah gereja yang disebut Gereja Santa Perawan Bunda Maria. Abad XIV, dua imam Fransiskan (Pater Odorie de Porta Naone, 1323 dan Mgr. John de Marignol, 1346) dalam perjalanan menuju ke Peking, Cina, mengadakan kunjungan ke Komunitas Katolik dalam jumlah yang kecil.
Blasius S. Yesse, “Bermula dari Barus,” dalam: Majalah Hidup no. 20 Tahun ke-61, 20 Mei 2011, pp. 11-13, dikutip dari: Mgr. Dr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, Diocese of Sibolga, North Sumatra, Indonesia.  Kutipan terdapat dalam pp. 11-12.


Ikutilah pendapat berbagai sarjana tentang "Apa benar Kekristenan (Gereja) memasuki Sumatra Utara pertama kali pada abad VII Masehi"? Silakan klik WEBSITE kami LUMIRE WORLD di alamat: https://sites.google.com/site/lumireworld/ 




BAB 2. PARAPATI CEMANI

BAB 2. SETINGGI BINTANG DI LANGIT


SEJAK Traktat  Patha berlaku (1064), Patha tumbuh berkembang menjadi “dunia budaya.”  Kalau Nalanda di Tanah Hindi dan Sriwijaya terkenal sebagai pusat ilmiah dan agama Buddha,1 Patha masyur dengan Pentas Seni-nya. Beberapa Sanggar Seni-Budaya berdiri di Patha. Seni tari, seni permainan rakyat, seni lagu-lagu daerah bahkan seni perang dikaji dan dipelajari di Patha.
         Tiap purnama raya, alun-alun kota raja Patha ramai dengan kegiatan Pentas Seni Patha. Begitu pun kali ini, purnama raya tahun 1260, kegiatan yang berlangsung seminggu penuh itu ramai pengunjung dan insan seni. Kegiatan ini memang dicanangkan universal dan non-politis, begitu ketentuan Raja Patha. Maka para empu dan duta seni yang hadir sebagai peserta kegiatan juga dari segenap penjuru Swarnadwipa.  Dan para duta tuan rumah tentu mati-matian berusaha tampil prima. Maklum penonton bukan hanya warga Patha, tetapi dari segenap pelosok Swarnadwipa.
         Pada hari ke tiga, seorang laki-laki setengah umur duduk menonton keramaian dengan diam-diam, dari sebuah kedai yang letaknya belasan meter dari panggung besar. Ia duduk menghadap segelas besar tuak, tetapi  -- si pemilik kedai dengan heran menyaksikannya—sudah hampir dua jam belum juga diteguknya minuman keras itu.
     Pakaiannya biasa saja, seperti orang kebanyakan. Penampilannya tidak menarik perhatian, terlalu sederhana. Tidak ada perhiasan melekat di tubuhnya. Hanya satu kejanggalan orang itu, kulitnya terlalu bersih sebenarnya untuk ukuran rakyat  jelata yang biasa bermandi keringat bercampur debu. Sayang mukanya tidak tampak jelas, sebagian tertutup oleh caping lebar. Tak ada orang yang perduli dengan kehadirannya. Padahal kalau saja orang tahu nama laki-laki itu, siapapun pasti terkejut. Laki-laki setengah baya itu adalah orang nomor dua di Patha, yakni Mapatih Datuk Sapuan Sadu! 
       
selanjutnya kunjungi WEBSITE kami untuk membaca sampai selesai atau membelinya agar dapat mendownloadnya dalam format PDF.